?


 Oleh : Akbar Trio Mashuri

 “Ma, ini apa?” tanya Aysila mungil.

“Sebentar lagi adek kamu akan keluar, katanya Aysila pengen punya adek.” jawab Mama.

Aysila masih menatap perut Mama, mulai lihat dari depan, samping, bahkan belakang. Tiba-tiba berhenti dan bertanya lagi, “Kenapa perut Mama semakin besar?” seraya menunjukkan wajah polos.

“Kan adek tambah besar, ya pastinya perut Mama tambah gede dong.” Sambil membenarkan tempat duduk, Aysila tak berhenti memandang. Ia merasa ada yang aneh dari Mamanya.

“Apa dulu Aysila juga sebesar ini, Ma?” tak berhenti Aysila memberikan pertanyaan.

“Tentunya sama Aysila, nanti kalau adeknya udah keluar Aysila dipanggil kakak.” Jelas mama dengan berharap Aysila tidak lagi menuangkan pertanyaan yang membuat bingun menjawab.

“Lalu, Ma ...”

Mama menunjukkan wajah yang lemas, tetapi harus menuruti keinginan anaknya, sebab memang pertanyaan bisa membuat mereka mengetahui segalanya baik dari dalam maupun luar.

Aysila melanjutkan, “Baagaimana dulu Aysila dan adek ini bisa di perut Mama?”

“Ya adeknya masuk di perut Mama.” Wajah mama menunjukkan kecemasan.

“Apa ya masuk sendiri?”

Mama sudah menduga akan terjadi hal yang seperti ini, Aysila tidak bisa dihentikan dengan omongan biasa. Hanya ada satu cara untuk membuat Aysila terdiam, yakni dengan menjawab semua pertanyaan lalu pamit dengan perlahan.

Aysila hendak ingin melancarkan pertanyaan lagi, bel pintu berbunyi. Terdengar teriakan Papa dari luar, fokus Aysila berubah dan berlari membukakan pintu tanpa di suruh Mama.

Wajah mama nampak bahagia terlepas dari pertanyaan Aysila, sebab kalau dilaanjutkan mama akan mati kutu tidak bisa menjawab. Semua pertanyaan Aysila memang murni dari pikirannya, entah dari mana pertanyaan itu terlontar.

            **

            Satu bulan berlalu dengan cepat, pertanyaan Aysila tidak segencar dulu. Sering kali ia berlibur dan main sendiri di rumah kakek, ia sangat menikmati keinginan dia menanam tamanan. Namun, tidak hanya menanam saja. Ada banyak pertanyaan juga yang di lontarkan kepada Nenek juga Kakek.

            Sementara Papa dan Mama sering ke dokter untuk kontrol kandungan. Mama meminimalisir mangajak Aysila untuk ikut. Jika ikut ke rumah sakit akan ada beribu pertanyaan, dan bisa-bisa saja nanti mama akan naik pitam.

            “Pa.”

            “Iya, Ma. Ada apa?” arah pandang papa menatap mama.

            “Ini tentang Aysila, mama sudah gak kuat lagi mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang Aysila tanyakan. Bagaimana dong, Pa, kalau Aysila gak di jawab pertanyaannya ntar malah ngambek, lalu susah untuk nyenengin lagi. Papa tau kan Aysila bagaimana.” Keresahan mama bisa sedikit terobati dengan menceritakan sedikit tentang Aysila selama ini.

            “Gak tau juga deh, Ma. Papa juga pernah ditanya Aysila tentang beberapa hal, tapi papa jawab dengan seadanya saja. untumg waktu itu Aysila tidak tanya terus menerus lagi. Kalau ditanya Aysila lagi, ya, kita harus jawab saja. Tapi mama  jangan menjawab dengan aneh aneh lo ya, hehe.” Senyum mengembang.

“Ya kali Pa, mama menjawab dengan jawaban untuk orang dewasa.”

Di sela-sela pembicaraan, Aysila teriak sambil ari menuju mama dan papa. Kebingungan kenapa Aysila bisa secepat itu pulang dari rumah kakek.

“Ini tadi Aysila minta pulang dulu, jadi kakek antarkan. Bagaimana kehamilanmu?”

“Alhamdulillah, Yah, kata dokter mungkinnaanti dua minggu lagi akan keluar.”

“Yee, adek akan keluar. Aysila akan di panggil kakak.” Aysila meengekspresikan dirinya dengan lompat-lompat.

Papa dan mama tersenyum dengan kelakuan Aysila. Rasa khawatir mereka tidak hilang begitu saja, tetapi bisa terobati dengan tingkah Aysila yang lucu.

“Aw...” teriak mama mengerang kesakitan.

Papa dan Ayah panik, Aysila masih tidak mengerti apa yang terjadi dengan mama, “Mama kenapa, Pa? Kenapa Mama teriak?”

“Sudah, Aysila jangaan tanya dulu ya. Papa mau membawa mama ke rumah sakit.”

“Tapi, kenapa Aysila tidak booleh tanya? Apa..”

“Sudah cukup Aysila, nanti kan bisa tanya lagi.” dengan membentak papa menjawab, Aysila takut melihat wajah papa yang marah. Baru kali ini Aysila melihat papa marah dengannya.

Air mata Aysila keluar, ia berlari menuju kamar, “Papa jahat, papa jahat.”

“Biar Kakek yang mengurus Aysila. Kamu bawa istrimu ke dokter sekarang juga,” ucap kakek.

Dengan rasa bersalah juga papa telah membentak Aysila, tidak seharusnya membentak dengan cara seperti itu. Aysila masih kecil belum mengetahui kehidupan luar, wajar saja kalau bertanya apapun. Sebab naluriah anak-anak kalau tidak mengetaui akan tanya kepada orang yang di dekat.

**

“Aysila, buka pintunya. Ini kakek, papa gak bermaksud untuk membentak Aysila kok.” Rayu kekek berharap Aysila akan segera cepat keluar.

“Ayah jahat, Aysila kan hanya pengen nanya doang.” Masih terdengar jelas seruan tangisnya.

“Papa tadi bilang minta maaf ke Aysila, sekarang papa nganterin mama ke rumah sakit. Aysila gak mau ke rumah sakit nengokin mama? Adeknya sebentar lagi akan keluar lho. Katanya Aysila seneng kalau adeknya udah keluar, nanti manggilnya jadi kakak.”

Tangisan Aysila mulai mereda, “Apa salah Aysila sehingga di bentak?”

Kakek mulai senyum, di saat seperti ini Aysila masih memberikan pertanyaan. Pertanda bagus buat ia akan segera keluar dari kamar. Memang setiap hari kakek tidak berada satu rumah dengan Aysila, tetapi pengalaman tidak pernah mengkhianati. Karena kakek sudah sangat hafal karakter semua anak dan cucunya.

Perlahan pintu terbuka, pipi Aysila masih basah, “Papa tadi belajar akting sayang, perannya sebagai orang yang marah-marah, makanya tadi Aysila di marahin papa deh.”

“Beneran? Papa akting kayak di televisi, apa nanti papa akan jadi artis juga, kek?”

“Hehe, ya mungkin bisa jadi. Apa nanti Aysila seneng kalau punya papa artis?”

“Iya seneng dong kek,” ucap Aysila kembali dengan karakter dia yang ceria.

“Nah, Aysila kalau senyum begini kan makin lebih cantik. Ya sudah, sekarang kita nyusulin papa yuk ke rumah sakit.”

“Ayuk, Kek. Aysila sudah gak sabar lihat adek baru.”

**

Kekhawatiran Ayah sudah mulai berhenti setelah hampir dua jam menunggu di luar. Mendengar teriakan istrinya dan memikirkan bagaimana Aysila di rumah sudah membuat papa pusing kembali. Ia berharap bahwa kakek bisa mengatasi Aysila. Teriakan bayi sudah berbunyi dan dokter sudah memberi tau bahwa anaknya kali ini perempuan.

Tidak lama kemudian Kakek datang dengan Aysila. Aysila melihat papa masih memasang wajah cemberut.

Papa menghampiri Aysila, “Sayang papa minta maaf ya, tidak seharusnya papa berbicara begitu.”

“Kenapa papa bicara begitu tadi ke Aysila?” pertanyaan yang dilontarkan ke kakek ia tanyakan kembali.

Kakek di belakang Aysila hanya tersenyum, dan memberikan isyarat bahwa harus menjawab itu. Namun, papa tidak mengerti apa yang dimaksudkan kakek.

“Ya, karena, papa tadi Cuma bercanda, hehe. Aysila maafin papa kan?”

“Lho, katanya kakek tadi Ayah latihan akting, tapi kok malah bercanda, gimana sih? Kakek bohongin Aysila ya?”

“Enggak sayang, kakek bener, kan papa bercanda karena belajar akting marah.” Jelas papa sebelumnya agak sedikit terkejut dengan bujukan kakek dengan latihan akting, “Mendingan Aysila lihat adek, yuk!”

Aysila mengikuti papa dari belakang, “Itu adek, sekarang papa panggil Aysila, kakak.” Melihat wajah Aysila tersenyum membuat kebahagiaannya bertambah.

“Ayah kenapa  adeknya gendut seperti ini? kan kakak gak gendut.”

“Ya, karena adek masih kecil.”

“Apa nanti besarnya kecil kakak? Jangan-jangan bukan adek kakak ini, Pa,” ucap Aysila.

Papa masih tidak bisa menjawab. Lalu Aysila melihat semakin dekat, tangan mungil adeknya terkena wajahnya. Kemudian menangis.

“Adeknya jahat, kakak gak mau punya adek yang jahat. Pasti ini bukan adek, salah orang! Kakak gak mau punya adek gendut, dan pasti salah. Adek kakak yang gak gendut seperti itu.”

“Aysila,” ucap papa dengan lembut. Namun, Aysila lari, “Pokoknya kakak gak mau punya adek itu, jahat dan berbeda. Pokoknya gak mau kalau adekk gendut.”

Papa tidak mengerti harus jawab apa lagi, kakeh hanyaa melihat, sementara mama mendengar percakapan juga ikut bingung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mentang-mentang

puisi dari mas sapardi djoko