Peran Orang tua Merawat Kesehatan Mental anak saat Pandemi Covid-19
Karya: Akbar Trio Mashuri
Pandemi Covid-19 tidak dapat
dipungkiri membawa perubahan berbagai aspek kehidupan. Tak hanya orang dewasa
mengalami perubahan, apalagi psikologi anak akan rentan terganggu. Semua
kegiatan serba di rumah, mulai kerja, olahraga dan belajar.
Merujuk hasil Riset Kesehatan
Dasae (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi penderita skizofrenia atau
psikosis sebesar 7 per 1000 dengan cakupan pengobatan 84, 9 %. Sementara itu,
prelevensi gangguan mental emosional pada remaja berumur lebih dari 15 tahun
sebesar 9,8%. Angka ini meningkat
dibandingkan tahun 2013, dilansir cigna.co.id. Data tersebut
menunjukkan tingkat metal emosional remaja semakin besar angkanya, kondisi
pandi menambah kecemasan yang cenderung berdiam diri di rumah dan bermain smart
phone.
Remaja semakin candu untuk
bermain game, sering telah makan, dan be;ajar online tidak efektif karena
berbagai halangan dari mulai signal dan paket data setiap siswa. Peran orang
tua dalam merawat kesehatan mental anak sangat krusial, prilaku anak setiap
hari dilihat dan dipahami betul mulai pagi hingga petang.
Fakta di lapangan, anak-anak
mulai kecanduan dengan smart phone, penurunan semangat belajar yang ditimbulkan
keseringan bermain game, seringkali acuh panggilan untuk makan, dan mengeluh
akibat tugas sekolah yang menumpuk tidak ada penjelasan terkait tugas yang
diberikan. Berakhirnya covid-19 tidak ada yang pasti, dengan itu adanya
pencegahan yang dilakukan orang tua bisa jadi perhatian ekstra untuk segera
dilakukan.
Orang tua dapat memantau tanda
anak tertekan dan tenggung mentalnya Akibat Pandemi Covid-19.
Beberapa tanda anak tertekan dan
terganggu mentalnya saat pandemi covid-19 menurut The Union Journal: (tirto.id)
1. Perilaku regresif
Secara umum,
kemunduran akan terjadi dalam transisi kondisi besar. Anak anak akan mengalami
kemunduran dalam bersikap dan prilaku seperti kembali mengisap ibu jari,
membutuhkan mainan kesayangan lagi, dll.
2. Perubahan Nafsu makan
Perubahan pola
nafsu makan juga menjadi faktor terjadinya kesehatan mental.
3. Masalah Tidur
Selama tertekan,
pola tidur juga dapat berubah. “perhatikan apakah anak anda tidur sepanjang
hari atau sebaliknya mengalami kesulitan tidur atau tertidur.”
Gangguan tidur sering
terjadi pada masa-masa sulit sehingga anak-anak mungkin mengalami masalah
tidur, terbangun tengah malam atau kelianan lainnya.
4. Perubahan Suasana Hati
Anak-anak yang
gelisah kemungkinan besar benar-benar merasa lebih gugup, sementara mereka yang
bermasalah mungkin memiliki lebih banyak ledakan biasa.
“Cari perubahan
dalam temperamen atau suasana hati normal mereka dan ingatlah bahwa stres
membuat suasana hati anda lebih normal lagi,” kata craig A. Knippenberg.
5. Mencari jaminan
Orang tua dapat mengetahu
adanya kesehatan mental dari banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh anak di
luar dari kebiasaan bertanya.
6. Tendensi untuk melekat pada orang terdekat
Orang tua akan
melihat tingkat prilaku melekat anak pada mereka semakin tinggi. Mungkin anak
akan mengikuti orangtuannya dari kamar ke kamar, bahkan menglami kesulitan jika
orangtuannya tidak bisa melihatnya atau tidak dapat dipisah sama sekali.
7. Penarikan
Ada beberapa
perintah yang nantinya akan ditolah kepada anak karena kenyamanan yang sudah
melekat.
8. Keluhan somatik
Anak-anak
mungkin memiliki banyak keluhan sakit kepala, sakit perut, dan lebih sedikit
energi. Faktanya kemungkinan bukan karena alasan medis, melainkan karena beban
pikiran yang mereka miliki.
9. Pemecahan Masalah
Beberapa anak
mungkin akan mengalami maslah dengan perhatian, konsentrasi dan pembelajaran
baru, yang akan berdampak pada pendidikan yang dijalani.
10.
Bertindak berlebihan
Selama pandemi,
para orang tua dapat mengamati dan menilai rilaku anak-anak mereka. apakah
mereka bertindak lebih dari biasnya.
Anak-anak akan
mulai mendesak adanya batasan, menunjukkan ke tingkat permusuha yang lebh
besar, hingga tidak mematiuhi arahan atau terlibat pertengkaran dengan anggota
keluarga inti.
Tanda-tanda diatas akan
mempermudah mengindikasi apakah anak keluarga inti dan kerabat sekitar mengalai
hal tersebut dan bisa mengidentifikasi sejak dini, dengan begitu pencegahan
yang bisa dilakukan dengan penkatan-pendekatan lembut tanpa adanya kekerasan,
sehingga beban pikiran yang sudah diamban anak tidak bertambah dan berakibat
buruk nantinya.
#oprecvolunteer #mudainovatif #platofoundation
Komentar
Posting Komentar