Perjuangan Dakwah di Eks Lokalisasi Dolly
LIKA-LIKU DAKWAH DALAM EKS LOKALISASI DOLLY
Sebagai Laporan
Kuliah Lapangan Mata Kuliah Ilmu Dakwah
Kota Surabaya ini menjadi
salah satu factor pendorong munculnya kegiatan prostitusi.. Surabaya memiliki
sebuah kawasan lokalisasi yang sangat terkenal hingga dikatan sebagai yang
terbesar di Asia Tenggara.
Kawasan Dolly atau yang
biasa terkenal dengan sebutan Gang Dolly adalah nama kawasan lokalisasi
tersebut. Lokalisasi ini terletak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan.
Dikatakan sebagai tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara dibandingkan
dengan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Di Dolly,
terkumpul ribuan PSK yang berasal dari sejumlah daerah seperti Semarang, Kudus,
Pati, Purwodadi, Nganjuk, Sidoarjo, Sumenep, Malang, Trenggalek, dan Kediri.
Sedangkan mereka yang berasal dari Surabaya bekerja di Dolly sebagai model paruh
waktu atau freelance.
Dolly Van De Mart
Memang
banyak beragam kisah mengenai berdirinya Dolly, yang pertama menyebutkan bahwa
Dolly merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi
tersebut di Kota Surabaya. Dolly Van De Mart adalah seorang perempuan keturunan
Belanda yang membuka sebuah wisma berisikan perempuan-perempuan cantik yang
tugas utamanya untuk melayani tentara Belanda kala itu.
Karena pelayanan memuaskan
yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, membuat tentara Belanda
akhirnya tertarik untuk datang berkunjung kembali. Tidak hanya itu, masyarakat
pribumi yang ikut penasaran juga akhirnya menyinggahi tempat itu sehinga
lama-kelamaan rumah bordil itu menjadi kawasan yang ramai dan terkenal hingga
sampai seperti sekarang.
Dolly Khavit
Selain
kisah Dolly Van De Mart seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada kisah lain
mengenai awal berdirinya kawasan prostitusi terkenal itu. Dalam kisah yang satu
ini, menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kompleks / kawasan
pemakaman Cina yang kemudian di bongkar untuk dijadikan hunian rumah tempat
tinggal. Lalu sekitar tahun 1976-an ada seorang mantan pelacur berdarah
Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan tante
Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas kemudian Dolly Khavit mendirikan
rumah bordil untuk pertama kalinya.
Usaha
rumah bordilnya ini membuat orang penasaran dan mengundang mereka untuk
berkunjung sehingga akhirnya kawasan tersebut semakin hari semakin terkenal
seperti sekarang. Konon sejak saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai
menjalar, banyak kemudian puluhan rumah bordil yang mendirikan bisnis yang sama
bermunculan. Selain karena lokasi yang strategis, cara para PSK (Pekerja Seks
Komersial) menjajakan diri dengan berada di aquarium memang menjadi magnet yang
besar bagi para lelaki hidung belang.
Semakin
lama Gang Dolly semakin dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian
berpengaruh pada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma
menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800
wisma esek-esek, kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus. Setidaknya
setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo,
dan ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada pengunjung. Bahkan
seorang PSK dapat melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya
itu, Dolly kemudian juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima,
tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkaitan menjalin simbiosis
mutualisme.
Sekarang
beberapa kota besar terkenal dengan praktik prostitusinya, misalnya di Surabaya
ada Dolly; Yogyakarta di Jalan Pasar Kembang (Sarkem); Jalan Kramat Tunggak dan
Gang Kalijodo di Jakarta Utara. Menimbang panjangnya sejarah pelacuran ini
menuntut perhatian yang serius dari setiap pemerintah yang berkuasa, baik
pemerintah pusat mauun pemerintah daerah, agar masalah pelacuran dapat diatasi
secara optimal. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang relevan serta
langkah-langkah yang konkret terkait pelacuran da dampaknya secara lintas
sektoral.
Tahun 2014, lokalisasi Dolly
resmi ditutup oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T setelah sekian
puluh tahun menjadi kawasan prostitusi yang dianggap merupakan sumber hal-hal
negative dan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Penutupan ini telah
melalui proses negosiasi yang sangat panjang dan menuai demonstrasi dari para
preman, mucikari, PSK, dan warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari
kegiatan prostitusi tersebut. Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa
selama ini dari lokalisasilah mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup.
Jika lokalisasi ditutup, maka itu sama saja dengan menghilangkan mata
pencaharian mereka.
Menurut
salah satu portal berita online, alasan lain mereka yaitu bisnis prostitusi itu
sudah terlanjur makmur. Tak tanggung-tanggung, puluhan juta rupiah bisa diraup
oleh setiap wisma per bulannya. Secara keseluruhan, omzet bisnis prostitusi
lokalisasi Dolly saja bisa mencapai miliaran rupiah. Setiap PSK bisa
mengantongi uang antara 13 juta sampai 15 juta rupiah per bulan. Sementara sang
mucikari bisa mendapatkan 60 juta rupiah per bulan.
Geliat
ekonomi dari gemerlapnya bisinis prostitusi seperti itu tidak hanya dirasakan
oleh PSK dan mucikari saja, namun juga warga yang bertempat tinggal disekitar
lokalisasi. Sebut sja pedagang kaki lima (PKL), pengayuh becak, tukang cuci
pakaian PSK, hingga warga yang bekerja sebagai makelar PSK. Namun, sejak
rencana penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak muncul disertai dengan intensifnya
razia oleh petugas keamanan menyebabkan jumlah pengunjung jauh berkurang.
Salah
seorang mucikari, menolak penutupan tersebut kecuali ada kompensasi yang
memadai. Bila tuntutan kompensasi tidak bisa dipenuhi, ia meminta pemkot untuk
mempertimbangkan kembali keputusan penutupan tersebut. Uang kompensasi yang
dimintanya adalah pengganti modal sebesar 2 miliar rupiah serta pemkot bersedia
membeli wismanya seharga 3 miliar rupiah.
Memang
selama ini Dolly menjadi salah satu mesin ekonomi Surabaya, terutama bagi
mereka yang bekerja di sektor informal. Dari hitungan AFP, dalam sehari
semalam, uang yang berputar di kawasan ini mencapai Rp. 300 juta hingga Rp. 500
juta
(US$ 25.000 sampai US$ 42.000). Uang itu sebagian besar
dinikmati oleh para pedagang kaki lima di sekitar lokalisasi, para sopir taksi
dan tukang ojek.
Munculnya
pengangguran baru yang ada setelah terjadi penutupan tersebut melahirkan
permasalahan baru di Kota Surabaya. Karena kehidpan di Dolly tidak terbatas
pada aktivitas pelacuran saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada
berjalannya kehidupan lokalisasi. Warga sekitar kompek pelacuran tersebut
menilai, pentupan ini bakal membuat hidup warga yang bergantung pada
perekonomian di kawasan itu menjadi sengsara
Sejak
pemerintah menutup lokalisasi Dolly, suasana malam hari tak seramai seperti
biasanya. Di mana terlihat puluhan makelar seolah tumpah di kawasan itu.
Sebelumnya sudah biasa terdengar suara music bersahutan antar wisma. Mulai
music dangdut hingga music disco. Kini, masayarakat tersebut sudah beralih
profesi sesuai dengan kondisi yang saat ini.
Seperti
yang dulunya bekerja sebagai mucikari kini beralih menjadi pemilik kos. Yang
dulunya bekerja sebagai pemilik salon, sekarang beralih berjualan air minum isi
ulang, hingga yang dulunya berjualan atau membuka took kelontong ikut berganti
pula membuka giras (warung kopi), yang dulunya bekerja sebagai pemilik wisma
sekarang membuka usaha laundry, tempat yang dulunya sebagai wisma ikut beralih
fungsi menjadi tempat futsal oleh pemerintah. Bahkan, wisma yang terkenal
dengan bangunannya yang 6 lantai bernama Barbara kini berubah menjadi industry
sandal dan sepatu kulit.
Penutupan
Dolly bukanlah keputusan yang dibuat dalam waktu cepat. Pemerintah Kota didukung
Pemerintah Provinsi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) gencar berkampanye
menghapus julukan Kota Surabaya yang tenar sebagai “Kota Sejuta PSK” dalam tiga
tahun terakhir. Berbagai program diturunkan agar para PSK tidak lagi
beroperasi, di antaranya dengan membekali mereka kemampuan usaha dan bekal Rp.
3 juta per PSK untuk membuka usaha baru di kampung halamannya masing-masing.
Untuk
mendukung Program Surabaya Bebas Prostitusi, Kementerian Sosial memberikan
tabungan senilai Rp. 4,2 juta kepada 960 PSK. Upaya tersebut tampaknya berhasil
dan mampu menurunkan jumlah PSK. Di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Jarak,
hingga Mei 2012 tercatat sebanyak 1.080 PSK. Jumlah itu turun dari tahun
sebelumnya yang mencapai 1.132 PSK. Sementara di lokalisasi Bangunsari, di
akhir 2012 jumlah PSK turun menjadi 162 dari jumlah di tahun sebelumnya yang
mencapa 213 PSK.
Dalam
rangka melakukan penutupan, Pemerintah Kota telah menyiapkan Rp 16 Miliar untuk
membeli seluruh wisma yang ada, yaitu sebanyak 311 wisma. Pemerintah Kota
Surabaya berencana mengubah wajah Dolly dan Jarak dengan membangun gedung
multi-fungsi berlantai enam. Lantai dasarnya digunakan sebagai area sentra PKL,
lantai dua untuk aneka jajanan dan makanan, lantai tiga dan empat untuk
perpustakaan dan computer, lantai lima difungsikan sebagai taman bermain, dan
lantai paling atas dijadikan sebagai Balai RW. Di sekitar gedung juga
direncanakan akan di bangun taman-taman kota.
Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan pesangon
kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp. 5 juta tetapi tidak disetujui oleh
semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima pesangon tersebut maka
akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai PSK lalu tertangkap maka
akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti
menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak
pada pelacuran di tempat lain.
Walikota
Surabaya hanya memberikan bentuk pelatihan seperti skill membuat kue kering,
salon, menjahit dan border. Hal ini juga diungkapkan oleh mantan pemilik toko
kecil bahwa yang dilakukan pemerintah tersebut untuk melatih masyarakat eks
lokalisasi Dolly ini memerlukan waktu yang singkat yakni hanya 3 hari. Tidak
semua orang bisa, pada dasarnya masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.
Purnomo dan Siregar dalam Dolly (1983)
mengemukakan, sejumlah pernyataan resmi mengumumkan jumlah perempuan yang telah
meninggalkan kompleks, dianggap menuju “jalan yang lurus”, tetapi kebanyakan
hanya pindah kompleks lain di kota lain di mana para germonya bisa membanggakan
adanya “pendatang baru”. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti
menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak
pada pelacuran di tempat lain.
Perlu
diingat bahwa eksistensi pelacuran terbangun karena logika bisnis, yaitu adanya
supply and demand, di mana para pelacur membutuhkan uang dan
pelanggannya membutuhkan kepuasan seksual. Para PSK eks-Dolly tetap dapat
bekerja atau beroperasi selama masih ada pelanggan yang menginginkan meskipun
harus bekerja di luar wilayah Dolly.
Salah satu jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun mucikari adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang dilakukan di lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan pada saat berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu. Memang tidak mudah, akan tetapi jika ada kemauan, kerja keras, telaten, dan konsisten maka keberhasilan dakwah akan tercapai. Jika saat ini banyak orang yang memandang jijik dan kotor terhadap dunia prostitusi, namun tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa PSK juga perlu mendapatkan dakwah islam yang layak.
Salah satu jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun mucikari adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang dilakukan di lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan pada saat berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu. Memang tidak mudah, akan tetapi jika ada kemauan, kerja keras, telaten, dan konsisten maka keberhasilan dakwah akan tercapai. Jika saat ini banyak orang yang memandang jijik dan kotor terhadap dunia prostitusi, namun tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa PSK juga perlu mendapatkan dakwah islam yang layak.
Perlu diingat bahwa eksistensi pelacuran terbangun
karena logika bisnis, yaitu adanya supply and demand, di mana para
pelacur membutuhkan uang dan pelanggannya membutuhkan kepuasan seksual. Para
PSK eks-Dolly tetap dapat bekerja atau beroperasi selama masih ada pelanggan
yang menginginkan meskipun harus bekerja di luar wilayah Dolly.
Salah
satu jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun mucikari
adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang dilakukan di
lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan pada saat
berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu. Memang tidak mudah, akan tetapi
jika ada kemauan, kerja keras, telaten, dan konsisten maka keberhasilan dakwah
akan tercapai. Jika saat ini banyak orang yang memandang jijik dan kotor
terhadap dunia prostitusi, namun tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa
PSK juga perlu mendapatkan dakwah islam yang layak.
Juga
tidak semua orang bisa berdakwah di tempat lokalisasi. Alasan yang paling besar
adalah godaannya yang banyak dan berat. Alih-alih menyadarkan atau
menginsyafkan oraang, justru pendakwah akan ikut terjerumus kedalam maksiat dan
gagal lah upaya dakwahnya. Sehingga untuk melakukan dawah di lokalisasi ini
diperlukan sekali langkah-langkah dan strategi-strategi yang tepat agar dakwah
yang dilakukan sukses.
Berbicara
mengenai dakwah di eks lokalisasi, saya sebagai salah satu mahasiswa Program
Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya telah mengikuti kuliah lapangan
yang berlokasi tepat di wilayah eks-lokalisasi sebagai bagian dari tugas Mata
Kuliah Ilmu Dakwah. Kuliah lapangan ini bertempat di sebuah masjid yang menjadi
saksi bisu perjuangan para mubaligh yang ikhlas berdakwah demi menghentikan
sarang maksiat yang besar itu. Masjid yang berlokasi di sebuah Gang yang masuk
dalam wilayah yang dulu disebut sebagai Dolly.
Narasumber
1
DAKWAH
KONTEMPORER DAN ENTERPRENEURSHIP
H. SUNARTO SHOLAHUDDIN (Owner PT berkah Aneka Laut & bendahara Masjid Nurul Fatah)
Dalam sambutan ini, Bapak Sunarto banyak sekali berbicara tentang kisah hidup beliau sejak kecil hingga menjadi sukses seperti sekarang ini. Banyak sekali pesan yang beliau semapaikan kepada kami hingga terbawa dan terbakar semangat beliau dalam meraih kesuksesan saat ini.
Beliau bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga yang berada. sejak kecil beliau telah membantu orangtuanya yang bekerja sebagai penjual es grojong dan roti dalam mencari nafkah, yakni menjajakan kue gorengan berkeliling desa.
Hingga pada akhirnya Sunarto kecil bertekad, mengadu nasib di Surabaya. Setibanya di Surabaya, tidak mudah menjalankan hidup, beliau mencari nafkah dengan menjadi pelayan di rumah makan.
Perjalanan yang begitu panjang dan terjal dilalui Sunarto dengan penuh keikhlasan dan doa yang tak pernah terputus. HIngga akhirnya jadilah beliau menjadi seorang kaya dengan mempunya sebuah kapal.
Kejujuran menjadi modal utama untuk meraih kesuksesan, begitulah pesan beliau kepad kami, bahwa kesuksesan bisa berawal dari langkah kecil yang kita buat, yakni jujur.
H. SUNARTO SHOLAHUDDIN (Owner PT berkah Aneka Laut & bendahara Masjid Nurul Fatah)Dalam sambutan ini, Bapak Sunarto banyak sekali berbicara tentang kisah hidup beliau sejak kecil hingga menjadi sukses seperti sekarang ini. Banyak sekali pesan yang beliau semapaikan kepada kami hingga terbawa dan terbakar semangat beliau dalam meraih kesuksesan saat ini.
Beliau bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga yang berada. sejak kecil beliau telah membantu orangtuanya yang bekerja sebagai penjual es grojong dan roti dalam mencari nafkah, yakni menjajakan kue gorengan berkeliling desa.
Hingga pada akhirnya Sunarto kecil bertekad, mengadu nasib di Surabaya. Setibanya di Surabaya, tidak mudah menjalankan hidup, beliau mencari nafkah dengan menjadi pelayan di rumah makan.
Perjalanan yang begitu panjang dan terjal dilalui Sunarto dengan penuh keikhlasan dan doa yang tak pernah terputus. HIngga akhirnya jadilah beliau menjadi seorang kaya dengan mempunya sebuah kapal.
Kejujuran menjadi modal utama untuk meraih kesuksesan, begitulah pesan beliau kepad kami, bahwa kesuksesan bisa berawal dari langkah kecil yang kita buat, yakni jujur.
Narasumber
2
H. Gatot Subiantoro (Mantan Preman
Lokalisasi)
"Kekayaan itu tidak ada habisnya, kemskinan itu tidak ada habisnya. Tetapi umur itu pasti ada masa habisnya."
Kata-kata yang selalu dan senantiasa beliau ucapkan kepada orang-orang. Memang benar beliau adalah mantan preman atau bahkan mantan pemimpin preman di area lokalisasi Dolly pada saat beroprasi. Hingga beliau dikenal dengan sebutan Bapak gatot atau bapak mantan preman.
Jika anda ingat Bang Tato yag terkenal karena seorang pimpinan preman yang insaf, tetapi memiliki tato disekujur tubuhnya dan memulai mendirikan potong rambut ayah dan anak serta senantiasa memakai baju panjang untuk menutupi tato yang ada ditubuhnya. Di Surabaya, adna akan melihat seorang yang sama-sama pemimpin preman tetapi tidak bertato, melainkan bertemoat tinggal dan bekerja di area lokalisasi Dolly. Beliau mulai insaf pada tahun 2000-an, pak Gatot dan bang Tato ini mantan preman yang tidak jahat walau pun pandangan orang menilainnya salah "Preman iu bukan maling," ucap bapak Gatot saat menyampaikan kisahnya.
Bapak yang terlahir di Surabaya dan berangkat tinggal di Dupak Bangunsar ini yang juga merupakan seorang bagian Humas Ideal MUI Jatim yang di mana pada saat itu beliau mendengarkan rutinitas ceramah yang di sampaikan oleh Ustaz Khoiro. "Saat itu Abah ceramah. Ya, isinya kayak biasanya. Tapi saat mendengar kalimat ini, ‘Harta itu tidak ada batasnya, tapi kalau umur ada batasnya’, aneh, saya langsung gemetar. Hati saya nelangsa, ingat mati. Akhirnya, ya, ikut abah,” kata bapak Gatot. Hijrahnya bapak Gatot ini banyak preman-preman lain yang mencibir dan mengata-ngatai beliau. Walaupun begitu, bapak Gatot ini tidak menghiraukan ucapan yang mengata-ngatai beliau, beliau senantiasa mengajak teman-teman sesama premannya untuk mau insyaf juga seperti dia.
Bapak Gatot mulai lepas dari pekerjaan lamanya, Hingga akhirnya oleh Ustaz Khoiron memberi
pekerjaan baru yaitu membantu dalam kegiatan pengentasan PSK, sekaligus menjadi
salah satu pengurus di Pondok Pesantren Raudlatul Khoir, pesantren yang
dirintis oleh Kiai Khoiron di belakang kediamannya. Selain mengurus pondok
pesantrean. Sembari berjualan mobil, bapak Gatot ini juga mulai menebus
kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan pada masa lalu yaiu dengan berbuat
kebaikan kepada orang-orang disekitarnya. Yang akhirnya ada beberapa teman
bapak Gatot yang juga ikut insyaf dan akhirnya menyebar walaupun secara
bertahap.
Di akhir kalimat ini, bapak Gatot menyampaikan kepada mahasiswa
UINSA pada acara talkshow yang diselenggarakan pada hari Sabtu (13/04/2019),
bahwa “Dakwah itu jangan hanya di satu tempat saja, jangan hanya kepada orang
yang itu-itu saja. Tetapi berdakwah kepada orang yang disekitarmu itu juga
perlu. Atau berdakwalah di tempat seperti lokalisasi ini karena masih banyak
manusia yang membutuhkan tuntunan menuju jalan yang benar.”
Narasumber 3
H. A. SUNARTO AS, MEI. (Doktor Prostusi/ Ideal MUI)
Narasumber 3
H. A. SUNARTO AS, MEI. (Doktor Prostusi/ Ideal MUI)
"Dakwah di lokalisasi itu harus dilakukan secara jaringan atau dakwah integral, dakwah tidak sendiri tapi bersama-sama. Itu yang lebih optimal."
Dakwah secara bahasa bermakna Menyeru/ mengubah/ mengajak. Dalam pembicaraannya. Beliau menceritakan tentang proses dakwah yang beliau lakukan. Dilahirkan dan dibesarkan di daerah sekitar lokalisasi Dolly, namun hati nuraninya tergerak untuk tidak terseret dengan hal-hal buruk, justri berkeinginan mengubahnya.
Beliau memulai dakwah pada tahun 1980 dari satu individu ke individu yang lain. karena di rsa tidak maksimal, maka pada tathun 2002 beliau mencoba menjali jejaring dengan banyak pihak. Hingga pada tahun 2002 hingga 2010, beliau melanjutkan dakwahnya melalui kelembagaan FORKEMAS yang merupakan embrio dari FKUP.
Dakwh yang beliau lakukan adalah dengan tujuan mengubah mindset para WTS dan mucikari. Seorang WTS menganggap, jika ia tidak melakukan kegiatan tersebut, maka ia takkan bisa dapat uang.
Setiap ramadhan, beliau selalu emngisi materi keagamaan bagi para WTS dan mucikari dengan tejuan agr lebih memperdalam keimanan mereka, dan jalan pikiran mereka terbuka untuk berubah menjadi lebih baik lagi.
Dalam sambutan, beliau juga menjelaskan dakwah yang beliau kerjakan menggunakan Integratif, Persuasif, dan Solutif. Yang dimaksud dengan Integratif adlah pembinnaan mental para WTS dan Mucikari. Lalu Persuasif yaitu dengan mengajak mereka menuju kebaikan yang kita dakwahkan. Terakhir Solutif, di mana tahapan akhir pendakwah memiliki tanggung jawab mencarikan jalan yang sebaiknya dikerjakan oleh WTS dan Mucikari tersebut.
Dakwah itu merangkul bukan mendengkul, tegas beliau. Hingga saat ini sudah ada 47 lokalisasi di Jawa Timur yang sudah berhasil ditutup menggunakan metode IPS (Integratif, Persuasif, dan Solutif)
Beliau memulai dakwah pada tahun 1980 dari satu individu ke individu yang lain. karena di rsa tidak maksimal, maka pada tathun 2002 beliau mencoba menjali jejaring dengan banyak pihak. Hingga pada tahun 2002 hingga 2010, beliau melanjutkan dakwahnya melalui kelembagaan FORKEMAS yang merupakan embrio dari FKUP.
Dakwh yang beliau lakukan adalah dengan tujuan mengubah mindset para WTS dan mucikari. Seorang WTS menganggap, jika ia tidak melakukan kegiatan tersebut, maka ia takkan bisa dapat uang.
Setiap ramadhan, beliau selalu emngisi materi keagamaan bagi para WTS dan mucikari dengan tejuan agr lebih memperdalam keimanan mereka, dan jalan pikiran mereka terbuka untuk berubah menjadi lebih baik lagi.
Dalam sambutan, beliau juga menjelaskan dakwah yang beliau kerjakan menggunakan Integratif, Persuasif, dan Solutif. Yang dimaksud dengan Integratif adlah pembinnaan mental para WTS dan Mucikari. Lalu Persuasif yaitu dengan mengajak mereka menuju kebaikan yang kita dakwahkan. Terakhir Solutif, di mana tahapan akhir pendakwah memiliki tanggung jawab mencarikan jalan yang sebaiknya dikerjakan oleh WTS dan Mucikari tersebut.
Dakwah itu merangkul bukan mendengkul, tegas beliau. Hingga saat ini sudah ada 47 lokalisasi di Jawa Timur yang sudah berhasil ditutup menggunakan metode IPS (Integratif, Persuasif, dan Solutif)
Narasumber 4
KHOIRON SYUAIB
KHOIRON SYUAIB
"Seorang pendakwah tidak boleh lelah dan putus asa membimbing mereka ke jalan yang benar."
Dalam sambutannya, Bapak Khoiron tidak menyampaikan pihak-pihak yang berpengaruh dengan adanya lokalisasi;
- WTS itu sendiri, di mana ia mendapatkan penghasilannya dari adanya lokalisasi
- Mucikari menganggap WTS merupakan dagangan mereka. PAda dasarnya banyak sekali WTS yang sudah tidak ingin berada di sana dan bekerja sebagai wanita malam, namun kebanyakan dari mereka menerima tuntutan karena mereka belum melunasi hutang kepada Mucikari.
- RW atau tokoh masyarakat atau preman. Dalam pihak ini tentu saja sangat berpengaruh dalam kegiatan ayang ada di lokalisasi, karena bisa dikatakan mereka menjadi pengusasadi tempat itu.
- Orang-orang sekitar yang mendapatkan keuntungan dari adanya lokalisasi, yaitu mereka yang tidak terlibat dalam kegiatan prostitusi di wilayah lokalisasi tersebut. Namun, mereka diuntungkan dengan adanya tempat dan kegiatan itu, seperti contohnya penyedia tempat parkir, warung-warung dan sebagainya.
“Orang yang berdakwah
di Masjid itu baik, orang yang berdakwah di lembaga pendidikan juga baik, namun
ingatlah orang orang yang berada di dunia kelam juga butuh pencerahan dari
seorang Da’i” Tutur Bapak Khoiron di akhir materinya.
Kesan-Kesan
dan Pelajaran Berharga
1.
Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil, salah
satunya dengan perjuangan dakwah yang tidak pernah menyerah, meski tahu bahwa
rintangan yang dihadapi sangat besar.
2.
Di sana juga saya mendapatkan orang seperti umar bin
khattab, yakni pak Gatot. Beliau dulu adalah orang yang paling mendukung adanya
lokalisasi, dan sekarang sebaliknya mendukung penuh jalan dakwah dan menentang keras
adanya mucikari ber oprasi
3.
Tekad dan kesungguhan juga sangat terlihat dalam
perjalanan yang panjang, hampir 12 tahun berdakwah ditempat yang tidak mudah,
bahkan jika kalau tidak kuat dalam hal keimanan. Maka akan terjerumus ikut ke
dalamnya.
4.
Tidak hanya itu yang diperlukan, tetapi buah kesabaran
juga sangat penting dalam menjalankan sebuah proses dakwah, karena dakwah tidak
boleh dilakukan dengan cara paksaan, melainkan dengan cara mengajak dengan
kelembutan.
5.
Saya merasa sangat senang sekali bahwa dengan adanya
pengalaman dan pengajaran ini bisa membuat saya yakin, bahwa dalam berusaha
harus di kasih kamus kecil dalam otak kita “PANTANG MENYERAH”. Meskipun
sebelumnya sudah pernah diajarkan Rasullah SAW.
6.
Saya teringat dengan pelajaran mahfudzot saya waktu di
pesantren dulu, manjadda wajada, manshobaro dzofiro, man saara ‘aladdarbi
washola. Ketiga kata mutiara ini yang sampai sekarang harus dijalankan oleh
pendakwah. Pertama, yakni bersungguh-sungguh. Kedua, bersabar dalam
menjalankannya. Ketiga, jika kamu sudah menerapkan pertama dan kedua, pasti
akan ada jalannya.
Pelajaran yang tidak kalah penting, jangan lupa untuk selalu
bersyukur dan ikhlas dalam keadaan apapun dan di mana pun seperti yang dikatakan
Bapak H Gatot bahwa Kekayaan, kesenangan, dan kemiskinan tidak akan ada
habisnya tetapi umur kita ada habisnya, kita tidak pernah tahu kapan ajal
menjemput kita maka dari itu kita harus selalu bersikap baik dan berada di
jalan Allah.
Pesan dari saya sendiri, sekaligus juga buat nasihat kepada saya
sendiri. Bahwa hasil yang besar juga membutuhkan pengorbanan yang besar. Jika kamu
ingin berhasil, lakukanllah dengan sepenuh yang kamu punya. Jangan menyerah,
dan jangan khawatir. Karena Allah selalu membantu hamba-Nya yang sedang
berjuang dalam jalan-Nya.
CERITA TAMBAHAN (hanya untuk dinikmati, bukan dikomentari)
Yang terkahir ada satu kejadian unik, di mana ketika saya berangkat
bersama Prof Ali Aziz. Ketika itu saya sudah meleati tempat kuliah lapangan dan
bahkan sempat diberhentikan oleh bapak yang jaga parkir, tetapi saya rasa
bukan, dengan begitu saya melaju terus tidak berhenti karena saya mengikuti
maps. Setelah tanya masjid At-Taubah di mana, akhirnya meleeati gang gang kecil
dan sampai juga keluar di jalan yang sama seperti yang saya lewati dan juga ada
bapak parkir yang memberhentikan, lalu berkata kepada saya, “Mas, mas, tadi
dipanggil gak berhenti.” Sambil ketawa.
Tidak hanya berangkat saja. namun pulangnya juga begitu. Salah mengambil
jalur pulang, sehingga 2 sampai 3 kali putar balik untuk sampai ke jalur yang diinginkan.
Pas ditengah perjalan juga saya dan Prof Ali Aziz juga terkena hujan saat pulang.




Komentar
Posting Komentar