Perjuangan Dakwah di Eks Lokalisasi Dolly



LIKA-LIKU DAKWAH DALAM EKS LOKALISASI DOLLY

Sebagai Laporan Kuliah Lapangan Mata Kuliah Ilmu Dakwah


Kota Surabaya ini menjadi salah satu factor pendorong munculnya kegiatan prostitusi.. Surabaya memiliki sebuah kawasan lokalisasi yang sangat terkenal hingga dikatan sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.

Kawasan Dolly atau yang biasa terkenal dengan sebutan Gang Dolly adalah nama kawasan lokalisasi tersebut. Lokalisasi ini terletak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan. Dikatakan sebagai tempat prostitusi terbesar di Asia Tenggara dibandingkan dengan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Di Dolly, terkumpul ribuan PSK yang berasal dari sejumlah daerah seperti Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Sidoarjo, Sumenep, Malang, Trenggalek, dan Kediri. Sedangkan mereka yang berasal dari Surabaya bekerja di Dolly sebagai model paruh waktu atau freelance.

Dolly Van De Mart
         Memang banyak beragam kisah mengenai berdirinya Dolly, yang pertama menyebutkan bahwa Dolly merupakan nama dari salah seorang perintis berdirinya usaha prostitusi tersebut di Kota Surabaya. Dolly Van De Mart adalah seorang perempuan keturunan Belanda yang membuka sebuah wisma berisikan perempuan-perempuan cantik yang tugas utamanya untuk melayani tentara Belanda kala itu.

Karena pelayanan memuaskan yang diberikan oleh para perempuan cantik tersebut, membuat tentara Belanda akhirnya tertarik untuk datang berkunjung kembali. Tidak hanya itu, masyarakat pribumi yang ikut penasaran juga akhirnya menyinggahi tempat itu sehinga lama-kelamaan rumah bordil itu menjadi kawasan yang ramai dan terkenal hingga sampai seperti sekarang.

Dolly Khavit

    Selain kisah Dolly Van De Mart seperti yang sudah dipaparkan di atas, ada kisah lain mengenai awal berdirinya kawasan prostitusi terkenal itu. Dalam kisah yang satu ini, menyebutkan bahwa pada awalnya Dolly hanyalah sebuah kompleks / kawasan pemakaman Cina yang kemudian di bongkar untuk dijadikan hunian rumah tempat tinggal. Lalu sekitar tahun 1976-an ada seorang mantan pelacur berdarah Jawa-Philipina yang bernama Dolly Khavit atau yang lebih dikenal dengan tante Dolly yang pindah ke daerah tersebut. Lantas kemudian Dolly Khavit mendirikan rumah bordil untuk pertama kalinya.

    Usaha rumah bordilnya ini membuat orang penasaran dan mengundang mereka untuk berkunjung sehingga akhirnya kawasan tersebut semakin hari semakin terkenal seperti sekarang. Konon sejak saat itulah bisnis prostitusi inipun mulai menjalar, banyak kemudian puluhan rumah bordil yang mendirikan bisnis yang sama bermunculan. Selain karena lokasi yang strategis, cara para PSK (Pekerja Seks Komersial) menjajakan diri dengan berada di aquarium memang menjadi magnet yang besar bagi para lelaki hidung belang.

     Semakin lama Gang Dolly semakin dikenal masyarakat. Kondisi tersebut kemudian berpengaruh pada kuantitas pengunjung dan jumlah PSK serta Dolly juga menjelma menjadi kekuatan dan sandaran hidup bagi penduduk di sana. Ada lebih dari 800 wisma esek-esek, kafe dangdut, dan panti pijat plus-plus. Setidaknya setiap malam sekitar 9.000 lebih penjaja cinta, pelacur di bawah umur, germo, dan ahli pijat siap menawarkan layanan kenikmatan kepada pengunjung. Bahkan seorang PSK dapat melayani 10 hingga 13 pelanggan dalam semalam. Bukan hanya itu, Dolly kemudian juga menjadi tumpuan hidup bagi ribuan pedagang kaki lima, tukang parkir, dan calo prostitusi. Semua saling berkaitan menjalin simbiosis mutualisme.

         Sekarang beberapa kota besar terkenal dengan praktik prostitusinya, misalnya di Surabaya ada Dolly; Yogyakarta di Jalan Pasar Kembang (Sarkem); Jalan Kramat Tunggak dan Gang Kalijodo di Jakarta Utara. Menimbang panjangnya sejarah pelacuran ini menuntut perhatian yang serius dari setiap pemerintah yang berkuasa, baik pemerintah pusat mauun pemerintah daerah, agar masalah pelacuran dapat diatasi secara optimal. Dalam hal ini diperlukan kebijakan yang relevan serta langkah-langkah yang konkret terkait pelacuran da dampaknya secara lintas sektoral.

Tahun 2014, lokalisasi Dolly resmi ditutup oleh Walikota Surabaya, Ir. Tri Rismaharini, M.T setelah sekian puluh tahun menjadi kawasan prostitusi yang dianggap merupakan sumber hal-hal negative dan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Penutupan ini telah melalui proses negosiasi yang sangat panjang dan menuai demonstrasi dari para preman, mucikari, PSK, dan warga sekitar yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan prostitusi tersebut. Mereka melakukan demonstrasi karena dalih bahwa selama ini dari lokalisasilah mereka mendapatkan penghasilan untuk biaya hidup. Jika lokalisasi ditutup, maka itu sama saja dengan menghilangkan mata pencaharian mereka.


     Menurut salah satu portal berita online, alasan lain mereka yaitu bisnis prostitusi itu sudah terlanjur makmur. Tak tanggung-tanggung, puluhan juta rupiah bisa diraup oleh setiap wisma per bulannya. Secara keseluruhan, omzet bisnis prostitusi lokalisasi Dolly saja bisa mencapai miliaran rupiah. Setiap PSK bisa mengantongi uang antara 13 juta sampai 15 juta rupiah per bulan. Sementara sang mucikari bisa mendapatkan 60 juta rupiah per bulan.

      Geliat ekonomi dari gemerlapnya bisinis prostitusi seperti itu tidak hanya dirasakan oleh PSK dan mucikari saja, namun juga warga yang bertempat tinggal disekitar lokalisasi. Sebut sja pedagang kaki lima (PKL), pengayuh becak, tukang cuci pakaian PSK, hingga warga yang bekerja sebagai makelar PSK. Namun, sejak rencana penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak muncul disertai dengan intensifnya razia oleh petugas keamanan menyebabkan jumlah pengunjung jauh berkurang.

      Salah seorang mucikari, menolak penutupan tersebut kecuali ada kompensasi yang memadai. Bila tuntutan kompensasi tidak bisa dipenuhi, ia meminta pemkot untuk mempertimbangkan kembali keputusan penutupan tersebut. Uang kompensasi yang dimintanya adalah pengganti modal sebesar 2 miliar rupiah serta pemkot bersedia membeli wismanya seharga 3 miliar rupiah.

     Memang selama ini Dolly menjadi salah satu mesin ekonomi Surabaya, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor informal. Dari hitungan AFP, dalam sehari semalam, uang yang berputar di kawasan ini mencapai Rp. 300 juta hingga Rp. 500 juta
(US$ 25.000 sampai US$ 42.000). Uang itu sebagian besar dinikmati oleh para pedagang kaki lima di sekitar lokalisasi, para sopir taksi dan tukang ojek.

   Munculnya pengangguran baru yang ada setelah terjadi penutupan tersebut melahirkan permasalahan baru di Kota Surabaya. Karena kehidpan di Dolly tidak terbatas pada aktivitas pelacuran saja. Ada perekonomian rakyat yang bertumpu pada berjalannya kehidupan lokalisasi. Warga sekitar kompek pelacuran tersebut menilai, pentupan ini bakal membuat hidup warga yang bergantung pada perekonomian di kawasan itu menjadi sengsara

       Sejak pemerintah menutup lokalisasi Dolly, suasana malam hari tak seramai seperti biasanya. Di mana terlihat puluhan makelar seolah tumpah di kawasan itu. Sebelumnya sudah biasa terdengar suara music bersahutan antar wisma. Mulai music dangdut hingga music disco. Kini, masayarakat tersebut sudah beralih profesi sesuai dengan kondisi yang saat ini.

      Seperti yang dulunya bekerja sebagai mucikari kini beralih menjadi pemilik kos. Yang dulunya bekerja sebagai pemilik salon, sekarang beralih berjualan air minum isi ulang, hingga yang dulunya berjualan atau membuka took kelontong ikut berganti pula membuka giras (warung kopi), yang dulunya bekerja sebagai pemilik wisma sekarang membuka usaha laundry, tempat yang dulunya sebagai wisma ikut beralih fungsi menjadi tempat futsal oleh pemerintah. Bahkan, wisma yang terkenal dengan bangunannya yang 6 lantai bernama Barbara kini berubah menjadi industry sandal dan sepatu kulit.

     Penutupan Dolly bukanlah keputusan yang dibuat dalam waktu cepat. Pemerintah Kota didukung Pemerintah Provinsi dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) gencar berkampanye menghapus julukan Kota Surabaya yang tenar sebagai “Kota Sejuta PSK” dalam tiga tahun terakhir. Berbagai program diturunkan agar para PSK tidak lagi beroperasi, di antaranya dengan membekali mereka kemampuan usaha dan bekal Rp. 3 juta per PSK untuk membuka usaha baru di kampung halamannya masing-masing.

     Untuk mendukung Program Surabaya Bebas Prostitusi, Kementerian Sosial memberikan tabungan senilai Rp. 4,2 juta kepada 960 PSK. Upaya tersebut tampaknya berhasil dan mampu menurunkan jumlah PSK. Di dua kompleks lokalisasi Dolly dan Jarak, hingga Mei 2012 tercatat sebanyak 1.080 PSK. Jumlah itu turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.132 PSK. Sementara di lokalisasi Bangunsari, di akhir 2012 jumlah PSK turun menjadi 162 dari jumlah di tahun sebelumnya yang mencapa 213 PSK.

     Dalam rangka melakukan penutupan, Pemerintah Kota telah menyiapkan Rp 16 Miliar untuk membeli seluruh wisma yang ada, yaitu sebanyak 311 wisma. Pemerintah Kota Surabaya berencana mengubah wajah Dolly dan Jarak dengan membangun gedung multi-fungsi berlantai enam. Lantai dasarnya digunakan sebagai area sentra PKL, lantai dua untuk aneka jajanan dan makanan, lantai tiga dan empat untuk perpustakaan dan computer, lantai lima difungsikan sebagai taman bermain, dan lantai paling atas dijadikan sebagai Balai RW. Di sekitar gedung juga direncanakan akan di bangun taman-taman kota.   

       Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan pesangon kepada para PSK dan mucikari sebesar Rp. 5 juta tetapi tidak disetujui oleh semua calon penerima, karena jika PSK telah menerima pesangon tersebut maka akan di data kemudian jika dia kembali bekerja sebagai PSK lalu tertangkap maka akan di rehabilitasi. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.

       Walikota Surabaya hanya memberikan bentuk pelatihan seperti skill membuat kue kering, salon, menjahit dan border. Hal ini juga diungkapkan oleh mantan pemilik toko kecil bahwa yang dilakukan pemerintah tersebut untuk melatih masyarakat eks lokalisasi Dolly ini memerlukan waktu yang singkat yakni hanya 3 hari. Tidak semua orang bisa, pada dasarnya masyarakat tidak mempunyai skill di bidang itu.


   Purnomo dan Siregar dalam Dolly (1983) mengemukakan, sejumlah pernyataan resmi mengumumkan jumlah perempuan yang telah meninggalkan kompleks, dianggap menuju “jalan yang lurus”, tetapi kebanyakan hanya pindah kompleks lain di kota lain di mana para germonya bisa membanggakan adanya “pendatang baru”. Jadi penutupan lokalisasi belum tentu berarti menyelesaikan masalah pelacuran secara komprehensif, karena dapat berdampak pada pelacuran di tempat lain.

       Perlu diingat bahwa eksistensi pelacuran terbangun karena logika bisnis, yaitu adanya supply and demand, di mana para pelacur membutuhkan uang dan pelanggannya membutuhkan kepuasan seksual. Para PSK eks-Dolly tetap dapat bekerja atau beroperasi selama masih ada pelanggan yang menginginkan meskipun harus bekerja di luar wilayah Dolly. 

     Salah satu jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun mucikari adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang dilakukan di lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan pada saat berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu. Memang tidak mudah, akan tetapi jika ada kemauan, kerja keras, telaten, dan konsisten maka keberhasilan dakwah akan tercapai. Jika saat ini banyak orang yang memandang jijik dan kotor terhadap dunia prostitusi, namun tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa PSK juga perlu mendapatkan dakwah islam yang layak.


       Perlu diingat bahwa eksistensi pelacuran terbangun karena logika bisnis, yaitu adanya supply and demand, di mana para pelacur membutuhkan uang dan pelanggannya membutuhkan kepuasan seksual. Para PSK eks-Dolly tetap dapat bekerja atau beroperasi selama masih ada pelanggan yang menginginkan meskipun harus bekerja di luar wilayah Dolly.

     Salah satu jalan lain yang digunakan untuk mengentas dan menyudahi PSK maupun mucikari adalah dengan memberikan mereka dakwah islam. Seperti dakwah yang dilakukan di lokalisasi saat ini, banyak cara dan metode yang dapat digunakan pada saat berdakwah di tempat sarang maksiat seperti itu. Memang tidak mudah, akan tetapi jika ada kemauan, kerja keras, telaten, dan konsisten maka keberhasilan dakwah akan tercapai. Jika saat ini banyak orang yang memandang jijik dan kotor terhadap dunia prostitusi, namun tidak sedikit pula orang yang menganggap bahwa PSK juga perlu mendapatkan dakwah islam yang layak.

      Juga tidak semua orang bisa berdakwah di tempat lokalisasi. Alasan yang paling besar adalah godaannya yang banyak dan berat. Alih-alih menyadarkan atau menginsyafkan oraang, justru pendakwah akan ikut terjerumus kedalam maksiat dan gagal lah upaya dakwahnya. Sehingga untuk melakukan dawah di lokalisasi ini diperlukan sekali langkah-langkah dan strategi-strategi yang tepat agar dakwah yang dilakukan sukses.


       Berbicara mengenai dakwah di eks lokalisasi, saya sebagai salah satu mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah & Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya telah mengikuti kuliah lapangan yang berlokasi tepat di wilayah eks-lokalisasi sebagai bagian dari tugas Mata Kuliah Ilmu Dakwah. Kuliah lapangan ini bertempat di sebuah masjid yang menjadi saksi bisu perjuangan para mubaligh yang ikhlas berdakwah demi menghentikan sarang maksiat yang besar itu. Masjid yang berlokasi di sebuah Gang yang masuk dalam wilayah yang dulu disebut sebagai Dolly. 


Narasumber 1
DAKWAH KONTEMPORER DAN ENTERPRENEURSHIP

H. SUNARTO SHOLAHUDDIN (Owner PT berkah Aneka Laut & bendahara Masjid Nurul Fatah)
       Dalam sambutan ini, Bapak Sunarto banyak sekali berbicara tentang kisah hidup beliau sejak kecil hingga menjadi sukses seperti sekarang ini. Banyak sekali pesan yang beliau semapaikan kepada kami hingga terbawa dan terbakar semangat beliau dalam meraih kesuksesan saat ini.

       Beliau bukanlah seorang yang terlahir dari keluarga yang berada. sejak kecil beliau telah membantu orangtuanya yang bekerja sebagai penjual es grojong dan roti dalam mencari nafkah, yakni menjajakan kue gorengan berkeliling desa.

       Hingga pada akhirnya Sunarto kecil bertekad, mengadu nasib di Surabaya. Setibanya di Surabaya, tidak mudah menjalankan hidup, beliau mencari nafkah dengan  menjadi pelayan di rumah makan.

       Perjalanan yang begitu panjang dan terjal dilalui Sunarto dengan penuh keikhlasan dan doa yang tak pernah terputus. HIngga akhirnya jadilah beliau menjadi seorang kaya dengan mempunya sebuah kapal.

       Kejujuran menjadi modal utama untuk meraih kesuksesan, begitulah pesan beliau kepad kami, bahwa kesuksesan bisa berawal dari langkah kecil yang kita buat, yakni jujur.

Narasumber 2
H. Gatot Subiantoro (Mantan Preman Lokalisasi)

"Kekayaan itu tidak ada habisnya, kemskinan itu tidak ada habisnya. Tetapi umur itu pasti ada masa habisnya."
       Kata-kata yang selalu dan senantiasa beliau ucapkan kepada orang-orang. Memang benar beliau adalah mantan preman atau bahkan mantan pemimpin preman di area lokalisasi Dolly pada saat beroprasi. Hingga beliau dikenal dengan sebutan Bapak gatot atau bapak mantan preman.

       Jika anda ingat Bang Tato yag terkenal karena seorang pimpinan preman yang insaf, tetapi memiliki tato disekujur tubuhnya dan memulai mendirikan potong rambut ayah dan anak serta senantiasa memakai baju panjang untuk menutupi tato yang ada ditubuhnya. Di Surabaya, adna akan melihat seorang yang sama-sama pemimpin preman tetapi tidak bertato, melainkan bertemoat tinggal dan bekerja di area lokalisasi Dolly. Beliau mulai insaf pada tahun 2000-an, pak Gatot dan bang Tato ini mantan preman yang tidak jahat walau pun pandangan orang menilainnya salah "Preman iu bukan maling," ucap bapak Gatot saat menyampaikan kisahnya.

       Bapak yang terlahir di Surabaya dan berangkat tinggal di Dupak Bangunsar ini yang juga merupakan seorang bagian Humas Ideal MUI Jatim yang di mana pada saat itu beliau mendengarkan rutinitas ceramah yang di sampaikan oleh Ustaz Khoiro. "Saat itu Abah ceramah. Ya, isinya kayak biasanya. Tapi saat mendengar kalimat ini, ‘Harta itu tidak ada batasnya, tapi kalau umur ada batasnya’, aneh, saya langsung gemetar. Hati saya nelangsa, ingat mati. Akhirnya, ya, ikut abah,” kata bapak Gatot. Hijrahnya bapak Gatot ini banyak preman-preman lain yang mencibir dan mengata-ngatai beliau. Walaupun begitu, bapak Gatot ini tidak menghiraukan ucapan yang mengata-ngatai beliau, beliau senantiasa mengajak teman-teman sesama premannya untuk mau insyaf juga seperti dia.

Bapak Gatot mulai lepas dari pekerjaan lamanya, Hingga akhirnya oleh Ustaz Khoiron memberi pekerjaan baru yaitu membantu dalam kegiatan pengentasan PSK, sekaligus menjadi salah satu pengurus di Pondok Pesantren Raudlatul Khoir, pesantren yang dirintis oleh Kiai Khoiron di belakang kediamannya. Selain mengurus pondok pesantrean. Sembari berjualan mobil, bapak Gatot ini juga mulai menebus kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan pada masa lalu yaiu dengan berbuat kebaikan kepada orang-orang disekitarnya. Yang akhirnya ada beberapa teman bapak Gatot yang juga ikut insyaf dan akhirnya menyebar walaupun secara bertahap.

Di akhir kalimat ini, bapak Gatot menyampaikan kepada mahasiswa UINSA pada acara talkshow yang diselenggarakan pada hari Sabtu (13/04/2019), bahwa “Dakwah itu jangan hanya di satu tempat saja, jangan hanya kepada orang yang itu-itu saja. Tetapi berdakwah kepada orang yang disekitarmu itu juga perlu. Atau berdakwalah di tempat seperti lokalisasi ini karena masih banyak manusia yang membutuhkan tuntunan menuju jalan yang benar.”

Narasumber 3
H. A. SUNARTO AS, MEI. (Doktor Prostusi/ Ideal MUI)
"Dakwah di lokalisasi itu harus dilakukan secara jaringan atau dakwah integral, dakwah tidak sendiri tapi bersama-sama. Itu yang lebih optimal."

Dakwah secara bahasa bermakna Menyeru/ mengubah/ mengajak. Dalam pembicaraannya. Beliau menceritakan tentang proses dakwah yang beliau lakukan. Dilahirkan dan dibesarkan di daerah sekitar lokalisasi Dolly, namun hati nuraninya tergerak untuk tidak terseret dengan hal-hal buruk, justri berkeinginan mengubahnya.

Beliau memulai dakwah pada tahun 1980 dari satu individu ke individu yang lain. karena di rsa tidak maksimal, maka pada tathun 2002 beliau mencoba menjali jejaring dengan banyak pihak. Hingga pada tahun 2002 hingga 2010, beliau melanjutkan dakwahnya melalui kelembagaan FORKEMAS yang merupakan embrio dari FKUP.

Dakwh yang beliau lakukan adalah dengan tujuan mengubah mindset para WTS dan mucikari. Seorang WTS menganggap, jika ia tidak melakukan kegiatan tersebut, maka ia takkan bisa dapat uang.

Setiap ramadhan, beliau selalu emngisi materi keagamaan bagi para WTS dan mucikari dengan tejuan agr lebih memperdalam keimanan mereka, dan jalan pikiran mereka terbuka untuk berubah menjadi lebih baik lagi.

       Dalam sambutan, beliau juga menjelaskan dakwah yang beliau kerjakan menggunakan Integratif, Persuasif, dan Solutif. Yang dimaksud dengan Integratif adlah pembinnaan mental para WTS dan Mucikari. Lalu Persuasif yaitu dengan mengajak mereka menuju kebaikan yang kita dakwahkan. Terakhir Solutif, di mana tahapan akhir pendakwah memiliki tanggung jawab mencarikan jalan yang sebaiknya dikerjakan oleh WTS dan Mucikari tersebut.

       Dakwah itu merangkul bukan mendengkul, tegas beliau. Hingga saat ini sudah ada 47 lokalisasi di Jawa Timur yang sudah berhasil ditutup menggunakan metode IPS (Integratif, Persuasif, dan Solutif)

Narasumber 4
KHOIRON SYUAIB


"Seorang pendakwah tidak boleh lelah dan putus asa membimbing mereka ke jalan yang benar."
       
       Dalam sambutannya, Bapak Khoiron tidak menyampaikan pihak-pihak yang berpengaruh dengan adanya lokalisasi; 
  1. WTS itu sendiri, di mana ia mendapatkan penghasilannya dari adanya lokalisasi
  2. Mucikari menganggap WTS merupakan dagangan mereka. PAda dasarnya banyak sekali WTS yang sudah tidak ingin berada di sana dan bekerja sebagai wanita malam, namun kebanyakan dari mereka menerima tuntutan karena mereka belum melunasi hutang kepada Mucikari.
  3. RW atau tokoh masyarakat atau preman. Dalam pihak ini tentu saja sangat berpengaruh dalam kegiatan ayang ada di lokalisasi, karena bisa dikatakan mereka menjadi pengusasadi tempat itu.
  4. Orang-orang sekitar yang mendapatkan keuntungan dari adanya lokalisasi, yaitu mereka yang tidak terlibat dalam kegiatan prostitusi di wilayah lokalisasi tersebut. Namun, mereka diuntungkan dengan adanya tempat dan kegiatan itu, seperti contohnya penyedia tempat parkir, warung-warung dan sebagainya.
“Orang yang berdakwah di Masjid itu baik, orang yang berdakwah di lembaga pendidikan juga baik, namun ingatlah orang orang yang berada di dunia kelam juga butuh pencerahan dari seorang Da’i” Tutur Bapak Khoiron di akhir materinya.
  
Kesan-Kesan dan Pelajaran Berharga
1.             Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil, salah satunya dengan perjuangan dakwah yang tidak pernah menyerah, meski tahu bahwa rintangan yang dihadapi sangat besar.
2.             Di sana juga saya mendapatkan orang seperti umar bin khattab, yakni pak Gatot. Beliau dulu adalah orang yang paling mendukung adanya lokalisasi, dan sekarang sebaliknya mendukung penuh jalan dakwah dan menentang keras adanya mucikari ber oprasi
3.             Tekad dan kesungguhan juga sangat terlihat dalam perjalanan yang panjang, hampir 12 tahun berdakwah ditempat yang tidak mudah, bahkan jika kalau tidak kuat dalam hal keimanan. Maka akan terjerumus ikut ke dalamnya.  
4.             Tidak hanya itu yang diperlukan, tetapi buah kesabaran juga sangat penting dalam menjalankan sebuah proses dakwah, karena dakwah tidak boleh dilakukan dengan cara paksaan, melainkan dengan cara mengajak dengan kelembutan.
5.             Saya merasa sangat senang sekali bahwa dengan adanya pengalaman dan pengajaran ini bisa membuat saya yakin, bahwa dalam berusaha harus di kasih kamus kecil dalam otak kita “PANTANG MENYERAH”. Meskipun sebelumnya sudah pernah diajarkan Rasullah SAW.
6.             Saya teringat dengan pelajaran mahfudzot saya waktu di pesantren dulu, manjadda wajada, manshobaro dzofiro, man saara ‘aladdarbi washola. Ketiga kata mutiara ini yang sampai sekarang harus dijalankan oleh pendakwah. Pertama, yakni bersungguh-sungguh. Kedua, bersabar dalam menjalankannya. Ketiga, jika kamu sudah menerapkan pertama dan kedua, pasti akan ada jalannya.

Pelajaran yang tidak kalah penting, jangan lupa untuk selalu bersyukur dan ikhlas dalam keadaan apapun dan di mana pun seperti yang dikatakan Bapak H Gatot bahwa Kekayaan, kesenangan, dan kemiskinan tidak akan ada habisnya tetapi umur kita ada habisnya, kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput kita maka dari itu kita harus selalu bersikap baik dan berada di jalan Allah.

Pesan dari saya sendiri, sekaligus juga buat nasihat kepada saya sendiri. Bahwa hasil yang besar juga membutuhkan pengorbanan yang besar. Jika kamu ingin berhasil, lakukanllah dengan sepenuh yang kamu punya. Jangan menyerah, dan jangan khawatir. Karena Allah selalu membantu hamba-Nya yang sedang berjuang dalam jalan-Nya.

CERITA TAMBAHAN (hanya untuk dinikmati, bukan dikomentari)

Yang terkahir ada satu kejadian unik, di mana ketika saya berangkat bersama Prof Ali Aziz. Ketika itu saya sudah meleati tempat kuliah lapangan dan bahkan sempat diberhentikan oleh bapak yang jaga parkir, tetapi saya rasa bukan, dengan begitu saya melaju terus tidak berhenti karena saya mengikuti maps. Setelah tanya masjid At-Taubah di mana, akhirnya meleeati gang gang kecil dan sampai juga keluar di jalan yang sama seperti yang saya lewati dan juga ada bapak parkir yang memberhentikan, lalu berkata kepada saya, “Mas, mas, tadi dipanggil gak berhenti.” Sambil ketawa.

Tidak hanya berangkat saja. namun pulangnya juga begitu. Salah mengambil jalur pulang, sehingga 2 sampai 3 kali putar balik untuk sampai ke jalur yang diinginkan. Pas ditengah perjalan juga saya dan Prof Ali Aziz juga terkena  hujan saat pulang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mentang-mentang

puisi dari mas sapardi djoko