Antara Genangan dan Kenangan


Natasya melamun sendiri di depan Halte Bus memandangi hujan yang turun dihadapannya. Sendiri, ia menanti sang kekasih datang. Berkali-kali ia seperti itu. Terdiam tak berkata apa-apa. Berkali-kali ditanya kernet bus, pertanyaan itu hanya dihiraukan saja oleh Natasya. Tidak memandang dan tidak berkata-kata. Begitulah nasibnya. Hanya bisa menunggu dan berdo’a.
Sudah sejak dua minggu yang lalu ia begitu. Sebelum itu terjadi, beginilah ceritanya...
Dawai asmara mengucur deras melintasi pasangan kekasih yang berbahagia. Natasya dan fahri, mereka sepasang kekasih yang baru saja menikah, iya mereka berencana mau bulan madu ke negeri Jiran Malaysia. Rencana mereka berangkat bulan depan, untuk saat ini mereka masih dirumah dan melakukan aktivitas sebagaimana mestinya. Natasya bekerja sebagai pebisnis batik dan sedangkan Fahri Bekerja sebagai tentara. Mereka mengenal satu sama lain dari sejak SMA, dari situlah kasih sayang mereka terjalin.
“Sungguh aku sangat bahagia hari ini, melihatmu disini bersanding bersamaku,” ucap Natasya.
“Aku juga begitu. Perasaan bahagia ini akan kukenang. Dirimu akan selalu menjadi bagian tubuh ini yang tak bisa terpisahkan,” ucapanya menunjukkan sebuah kasih sayang yang amat mendalam.
“Iya, Akhirnya kita dipersatukan dalam ikatan haqiqi ini,” sembari Natasya menatap wajah Fahri.
Pasangan itu sungguh bahagia sekali. Pasalnya tak ada yang melebihi kemesraan mereka. Entah dari sikap maupun kelakukan mereka.
Telpon berbunyi. Nada dering Fahri terdengar agak aneh. Natasya tidak tau menahu maslaah nada dering itu. Ia lalu memanggil suaminya untuk mengangkat telpon dengan nomer yang disamarkan. “Sayang, Handphone kamu berbunyi.”
“Iya, sayang.” Fahri kemudian mengecek Hpnya yang ia tinggal di meja kamar. Melihat Hpnya tersebut Fahri kaget dengan nomer yang disamarkan. Ia teringat dengan apa yang dismampaikan oleh komandanya waktu sedang liburan.
Kalau kau siap menjadi tentara harus siap dengan kondisi apapun. Siap untuk dipanggil dengan keadaan apapun. Harus rela meninggalkan orang yang di cintainya demi keamanan negara. Seandainya nanti ada telpon dengan nomor yang disamarkan mungkin itu dari tim darurat yang membutuhkan bantuan mendadak. Saat itulah kalian persiapkan jiwa dan tenaga kalian.”
Selepas telpon yang tidak ia ankat tadi, iamasih memikirkannya. Fahri masih duduk menunggu telpon susulan, dengan keadaan cemas dan khawatir. Seandainya ia akan dipanggil untuk ditugaskan. Ia akan menghancurkan momen pernikahanya dan merusak rencana bulan madunya. Ia tak tega melihat istrinya harus ditinggal. Selang beberapa menit kemudian ia menerima telpon kembali. Dengan nomer yang sama yang disamarkan. Fahri berbegas mengangkat telponnya.
“Halo, ini siapa?.”
“ Maaf, Apa betul ini dari sersan Fahri?.”
“Iya, betul dengan saya sendiri.”
“Sersan Fahri. Saya komandan Homed. Menugaskan sersan Fahri dalam perang melawan tetoris didaerah Bandung. Saat ini mobil penjemputan sudah dalam perjalan ke rumah sersan Fahri. Jadi, sersan Fahri harus bersiap-siap sekarang juga.”
“Siap Komandan.” Tidak banyak bercakap-cakap lagi. Fahri langsung menutup telponnya. Ia persiapkan apa saja yang perlu dipersiapkan.
Natasya melihat suaminya yang baru saja menerima telpon itu sedang bergegas untuk berkemas. Ia bingung kenapa suaminya berkemas. Mau pergi kemana?.
“Sayang, kamu mau mau pergi kemana. Kok beres-beres baju. Bukanya kamu masih bebas tugas?”
“Maafkan aku iya sayang. Aku harus merusak hari bahagia kita. Saat ini aku harus berangkat untuk mengikuti perang melawan teroris dibandung, dalam misi penangkapan dan penyergapan. Ini adalah keadaan darurat.”
Hati Natasya sangat sedih melihat kabar tersebut tak tau harus bagaimana berbuat. Ia hanya bisa memandangi suaminya yang akan segera berangkat dengan mempertaruhkan nyawanya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Air matapun menetes di pipinya. Fahri mengusap dengan penuh kasih sayang yang terpancar jelas di bola matanya. Ia tak tega meninggalkan istrinya, tapi kehendaknya tak bisa mencegahnya untuk tetap tinggal disini. Ia harus berangkat.
“Sudah jangan bersedih sayang. Do’akan saja aku cepat kembali sebelum tanggal bulan madu kita. Maafkan aku sayang,” Fahri memeluk Istrinya dnegan kehangatan. Natasya terpaku dan terdiam dalam pelukan fahri.
“Iya sayang.  Aku di sini akan selalu menunggumu. Sampai kamu pulang. Saat di sana kamu jaga kondisi baik-baik. Do’aku akan selalu menyertaimu,” Sembari tersenyum ia menguatkan hati, tak ingin dilihat suaminya cengeng. Ia tunjukkan wajah manisnya untuk menghilangkan kesedihan diantara mereka.
Langkah Fahri untuk berpamitan dengan keluarganya sudah selesai. Semua orang menghawatirkan Fahri, karena ini pekerjaan yang bisa saja nanti merenggut nyawanya.
                Mobil jemputan Fahri sudah tiba dirumah, waktunya Fahri untuk meninggalkan istrinya dan keluarganya. Langkah Fahri sangat tegas, ia mengenakan seragam tentara lengkap dengan sepatu DHL. Terlihat gagah Natasya mencium tangan suaminya sebelum beranjak pergi dan sebuah kecupan manis yang ia berikan untuk suaminya.
                Saat itulah Natasya dilanda rindu dan kesepian didalam hidupnya. Saat baru saja menikah dekejap saja tertutupi oleh kesedihannya.
***
                Sudah dua minggu fahri pergi meninggalkan Natasya. Tidak ada kabar sekali tentang Fahri. Entah apa yang dilakukan Fahri ia tidak tahu sama sekali, bahkan kabarnyapum juga tidak diketahuinya.
                Natasya selesai bekarja hanya bisa melamun memandangi ponselnya. Apabila ada balasan dari suaminya. Dan ia bisa langsung tahu. Perasaan was-was dan cemas perasaan itu yang selalu dalam pikiran Natasya. Yang hanya difikiranya adalah kabar Fahri, apakah ia baik atau tidak saat berada disana. Perasaan Natasya tidak seperti sebelumnya saat sebelum menikah. Tidak pernah sekhawatir dan secemas ini.
                Bel-berbunyi terdengar dirumah Natasya. Ia bergegas mebuka pintunya. Ia berharap orang yang dibalik pintu itu adalah Fahri, suaminya. Ketika dibuka, ternyata bukan Fahri melainkan tentara yang datang tapi bukan Fahri, “Maaf apakah betul ini dengan Rumah Tuan Fahri.”
                “Iya, betul. Ini Rumah Tuan Fahri. Anda siapa, dan ada keprluan apa sama Tuan Fahri. Saat ini Tuan Fahri seddang tidak berada dirumah. Sedang melaksanakan tugas di Bandung.”
                “Maaf, Mbak. Mbak ini siapanya Tuan Fahri?’’
                “Saya Istrinya Mas.”
                “Saya hanya menyampaikan surat dari tuan Fahri. Ini surat terakhirnya sebelum meninggal. Tuan Fahri tertembak saat dalam menjalankan tugas.”
                Mendengar kabar itu. Tubuh Natasya terkulai lemas. Tidak tau ia harus ngomong apa lagi. tangisan ia menjadi, menjerit dengan keras. Seisi rumah muncul keluar. Seluruh keluarga Fahri keluar.
            “Ada apa Natasya? Kenapa kamu menangis?”
“Mas Fahri buk, Mas Fahri,” Masih terlelap dalam tangisanya.
“Kenapa dengan Fahri?” Ibu heran dengan sikat Natasya yang tidak biasanya.
“Mas Fahri meninggal Buk.”
 Sontak seluruh keluarganya shok mendengarnya. Tak percaya bahwa Fahri meninggalkan Istri dan keluarganya dengan begitu cepat. Semua bersedih dalam tangisan.
Harapannya untuk bisa Bulan madu dan menikmati pernikahan ini sudah sirna. Harapan itu tinggal kata saja. Tidak bisa diwujudkan.
Jenazah Fahri dimakamkan di desanya. Ia dimakamkan dengan cara upacara militer. Isak tangis Natasya dan keluarganya bergantian bersahutan. Sampai pemakaman itu selesai. Natasya tetap dalam tangisanya. Wajahnya memerah dan mata cantiknya membengkak, karena kebanyakan mengeluarkan air mata.
Pemakaman sudah selesai. Kesedihan terlihat nampak di kedua keluarga. Entah keluarga Natasya dan keluarganya Fahri sendiri. Air mata mengalir dengan sendirinya. Natasya mencoba menahan diri supaya tidak terlihat sedih.
***
Sejak itu terjadi Nataysa sering melamun sendiri. Hujan menemaninya dalam penantian. Dan Genangan menjadi kenangan, ia teringat saat masa SMAnya bersma Fahri. Pulang bersama saat hujan menerpa dan bermain genangan yang ada. Tapi untuk saat ini, Fahri sudah tidak ada. Natasya hanya bisa mengingat kenangan masa lalunya yang penuh kebahagiaan. Meski  tidak bisa bersama Fahri lagi di dunia, ia yakin bahwa kelak ia akan di satukan di surga-Nya.

Komentar

  1. Keren.. :D
    Boleh saran ya, masih ada pemenggalan kata yg blm sesuai, mungkin untuk cerita selanjutnya bisa diperbaiki.
    Fighting

    BalasHapus
  2. Alur ceritanya bagus, hanya ada beberapa kata yang penulisannya kurang benar. Bisa diperbaiki ya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mentang-mentang

puisi dari mas sapardi djoko